27/07/14

Mendamba Rumah

"Mungkin sudah memasuki fasenya, Nik."
Beberapa hari yang lalu, saya yang sedang menjalani KKN-PPL, sibuk menghitung hari di sela rutinitas harian yang cukup padat. Rasa-rasanya angka dua-puluh-enam yang dipilih dan menjadi kesepakatan rekan satu kelompok saya sebagai angka keramat untuk sebuah kepulangan menjadi satu-satunya angka yang sangat ingin saya jumpai secepatnya. Saya yang biasanya sangat malas beranjak dari Jogja dan paling cepat kembali ke Jogja berubah menjadi seseorang yang sangat ingin meninggalkan Jogja. Entah, saya sedang mendamba apa, tapi itu yang setiap detik ada dan saya rasa.
Pagi itu dengan tergesa saya membereskan segala macam hal yang ingin saya bawa pulang ke rumah. Bahkan tanpa mandi terlebih dahulu, saya memutuskan untuk memulai perjalanan pulang walaupun cuaca pagi itu cukup tidak bersahabat. Dingin dan gerimis. Suatu hal yang biasanya saya sukai karena saya bisa tidur dengan lelap di bawah selimut tebal sepanjang hari.
Perjalanan pulang entah mengapa terasa begitu magis. Segalanya terasa begitu mesra. Lalu saya tertawa terbahak. Merasa lucu pada apa yang sedang saya rasa. Apa yang sebenarnya saya damba? Sambutan hangat ayah, ibu, dan adik saya? Atau bantal, guling, dan selimut yang selalu berhasil membuat saya lelap? Atau mungkin juga masakan ibu yang sudah lama tidak mampir di lidah saya? Entah, tapi segalanya terasa begitu lucu. Belum pernah saya begitu antusias untuk pulang ke rumah.
Sepanjang jalan saya mengingat beberapa pesan singkat yang sebelumnya saya kirim pada rekan saya, saya sempat bercerita tentang hal ini kepadanya. Lalu dia bertutur bahwa dia merasakan hal yang sama. Katanya, "Mungkin sudah memasuki fasenya, Nik". Dalam hati saya setuju pada apa yang dia tuturkan. Mungkin saya yang saat itu merasa jenuh karena belasan tahun di dalam rumah dan mendamba kebebasan yang begitu menjanjikan mulai merasa jenuh dan lelah dengan kebebasan itu sendiri. Dan pada akhirnya, rumah lah satu-satunya tempat untuk kembali rebah dan melepas lelah. Saya kembali tebahak karenanya lagi.
Hari itu, saya tidak bisa pulang dengan perasaan biasa saja. Terlalu banyak ledakan-ledakan yang tidak bisa saya hiraukan. Biarkan saja segalanya mengalir. Toh mungkin memang sudah memasuki fasenya. Biarkan saja saya mendamba rumah dengan segala hal perihalnya dan pada akhirnya mencumbunya. Biarkan saja untuk sementara saya menjadi melankoli karenanya. Biarkan saja.

17/09/13

Minggu Kedua Pada Sembilan

Senja-senja yang melintas secara acak dan berloncatan dari satu tempat ke tempat lain. Saya menghabiskan separuh dari minggu kedua bulan sembilan tidak untuk tetap berada di Jogja. Nekat berlarian walau aktivitas perkuliahan dan yang lain berhimpitan. Entah untuk apa. Mungkin memang sedang butuh ruang. Mungkin juga spasi. Terkadang rasa-rasanya segalanya terlalu sesak untuk dilalui.
Menuju semarang untuk sebuah kejutan pada karib yang selalu mengamini setiap ocehan-ocehan random saya. Lalu ke arah timur sedikit untuk sekedar mencoba melihat dari tempat yang lebih tinggi pada Lawu. Terimakasih semesta untuk segala kesempatannya. Walau bagaimana semua yang ada di kepala masih tetap berjejal berkelebat cepat begitu saja.

10/09/13

Menuju Senja di Sebuah Minggu


Sebuah senja yang luar biasa menarik dan cantik di sela rutinitas yang mulai mendera tanpa menyisa waktu untuk menghela nafas. Adalah Folk Afternoon #5 yang membawa beberapa cerita, tawa dan percakapan menuju senja yang santai di sebuah Minggu. Terimakasih semesta juga untuk Kak Tri, Kak Bayu, Koko dan disusul Mas Ioga untuk beberapa waktunya yang menyenangkan. Semoga akan ada ruang-ruang santai nan kece lagi di hari-hari depan. Terimakasih juga untuk gigs dengan set yang super unik dan bonus langit jingganya :)

04/09/13

Sembilan Puluh Lima


Nomor ini yang saya pegang dan saya simpan dengan baik beberapa waktu yang lalu.
Sebuah pertunjukan dari seorang musisi lokal membuat saya sempat berlari-larian kecil untuk mendapatkan beberapa tiket yang saat itu dijual dengan sangat terbatas dalam tempo waktu yang sangat singkat. Saya saat itu berada pada antrian sembilan puluh lima dari seratus dan menunggu selama beberapa puluh menit kemudian demi sebuah pertunjukan singkat yang memang sangat menyenangkan.
Lalu ada tujuh puluh lima. Sebuah angka yang tiba-tiba dihibahkan seseorang yang tidak dikenal pada seseorang yang saat itu datang dengan rekannya. Tujuh puluh lima lalu membawa beberapa percakapan basa-basi yang disertai dengan ribuan potongan ingatan yang sudah disimpan dengan rapi. Lalu dengan terus menggengam kertas kecil berangka tujuh puluh lima, seseorang berkata: 
"Maaf ya saya duluan padahal kamu datang lebih dulu."
Ada tawa kecil di sana. Ada sedikit syukur juga. Semesta membawa beberapa rindu yang sempat menguap menjadi awan pada beberapa waktu menuju angka enam belas.

01/09/13

MNSTR vs ULTRMN


Saya si monster yang tidak punya kerjaan sehingga berlarian ke sana kemari untuk menginjak-injak gedung-gedung tinggi yang sudah dibangun dengan susah payah. Lalu dia? Dia ultraman yang datang untuk menghentikan kelakuan super absurd saya. Dan segalanya selalu berulang. Saya hancurkan, dia hentikan. Sampai pada beberapa waktu yang membawa sebuah skenario baru. Saya si monster dan dia ultraman berjalan beriringan pada beberapa hujan dan berakhir pada dua cangkir kopi di beberapa kedai bersamaan dengan obrolan-obrolan yang berlarian tak karuan. Hingga akhirnya ada banyak perjalanan lain yang luar biasa.
Tapi saya masih si monster yang suka berulah. Sama seperti ketika pertama saya bertemu dengannya. Maka untuk dia, ultraman kesayangan saya, jangan lelah dengan beragam ulah :)