"Mungkin sudah memasuki fasenya, Nik."
Beberapa hari yang lalu, saya yang sedang menjalani KKN-PPL, sibuk menghitung hari di sela rutinitas harian yang cukup padat. Rasa-rasanya angka dua-puluh-enam yang dipilih dan menjadi kesepakatan rekan satu kelompok saya sebagai angka keramat untuk sebuah kepulangan menjadi satu-satunya angka yang sangat ingin saya jumpai secepatnya. Saya yang biasanya sangat malas beranjak dari Jogja dan paling cepat kembali ke Jogja berubah menjadi seseorang yang sangat ingin meninggalkan Jogja. Entah, saya sedang mendamba apa, tapi itu yang setiap detik ada dan saya rasa.
Pagi itu dengan tergesa saya membereskan segala macam hal yang ingin saya bawa pulang ke rumah. Bahkan tanpa mandi terlebih dahulu, saya memutuskan untuk memulai perjalanan pulang walaupun cuaca pagi itu cukup tidak bersahabat. Dingin dan gerimis. Suatu hal yang biasanya saya sukai karena saya bisa tidur dengan lelap di bawah selimut tebal sepanjang hari.
Perjalanan pulang entah mengapa terasa begitu magis. Segalanya terasa begitu mesra. Lalu saya tertawa terbahak. Merasa lucu pada apa yang sedang saya rasa. Apa yang sebenarnya saya damba? Sambutan hangat ayah, ibu, dan adik saya? Atau bantal, guling, dan selimut yang selalu berhasil membuat saya lelap? Atau mungkin juga masakan ibu yang sudah lama tidak mampir di lidah saya? Entah, tapi segalanya terasa begitu lucu. Belum pernah saya begitu antusias untuk pulang ke rumah.
Sepanjang jalan saya mengingat beberapa pesan singkat yang sebelumnya saya kirim pada rekan saya, saya sempat bercerita tentang hal ini kepadanya. Lalu dia bertutur bahwa dia merasakan hal yang sama. Katanya, "Mungkin sudah memasuki fasenya, Nik". Dalam hati saya setuju pada apa yang dia tuturkan. Mungkin saya yang saat itu merasa jenuh karena belasan tahun di dalam rumah dan mendamba kebebasan yang begitu menjanjikan mulai merasa jenuh dan lelah dengan kebebasan itu sendiri. Dan pada akhirnya, rumah lah satu-satunya tempat untuk kembali rebah dan melepas lelah. Saya kembali tebahak karenanya lagi.
Hari itu, saya tidak bisa pulang dengan perasaan biasa saja. Terlalu banyak ledakan-ledakan yang tidak bisa saya hiraukan. Biarkan saja segalanya mengalir. Toh mungkin memang sudah memasuki fasenya. Biarkan saja saya mendamba rumah dengan segala hal perihalnya dan pada akhirnya mencumbunya. Biarkan saja untuk sementara saya menjadi melankoli karenanya. Biarkan saja.